Setiap Yang Bernyawa Akan Merasakan Mati
Menurut
orang-orang yang bodoh, hal terburuk yang dapat terjadi pada seseorang
adalah mati. Itulah yang paling menakutkan bagi mereka, yaitu mendekati
kematian atau kehilangan seseorang yang mereka cintai. Bahkan, kematian
adalah peristiwa yang sedapat mungkin dihindari, meskipun orang yang
bodoh dapat mengetahui kebaikan dalam peristiwa tersebut. Baginya,
kematian tak pernah menjadi hal yang baik.
Cara
pandang masyarakat yang tidak beriman terhadap kematian adalah sama.
Mereka tidak pernah dapat melihatnya dengan cara pandang yang berbeda.
Kematian adalah benar-benar kebinasaan, sedangkan akhirat hanyalah
semata-mata spekulasi.
Bagi
orang-orang yang jauh dari kebenaran agama, kehidupan dunia ini adalah
satu-satunya kehidupan. Dengan kematian, satu-satunya kesempatan telah
berakhir. Inilah sebabnya, mereka menangisi hilangnya orang yang
dicintainya. Parahnya, kematian orang yang dicintainya secara tiba-tiba
di usia yang sangat muda, menjadi penyebab kemarahan mereka kepada Allah
dan takdir.
Bagaimanapun juga, orang-orang tersebut melupakan kenyataan-kenyataan penting.
- Pertama, tak ada seorang pun di bumi ini yang mendapatkan semua yang diinginkan. Setiap kehidupan seseorang adalah milik Allah; setiap orang lahir di waktu yang telah ditakdirkan Allah sebelumnya dan sesuai kehendak Allah. Inilah sebabnya, Allah—yang kepada-Nya kembali segala sesuatu di langit dan bumi dan apa yang ada di antaranya—dapat mengambil kembali jiwa siapa pun yang diinginkannya, kapan pun Dia menginginkannya.
- Kedua, tak ada seorang pun yang dapat menunda ketentuan Allah. Hal ini dinyatakan di dalam Al-Qur'an,
وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلاَّ بِإِذْنِ الله كِتَاباً مُّؤَجَّلاً وَمَن يُرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ
مِنْهَا وَمَن يُرِدْ ثَوَابَ الآخِرَةِ نُؤْتِهِ مِنْهَا وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ
مِنْهَا وَمَن يُرِدْ ثَوَابَ الآخِرَةِ نُؤْتِهِ مِنْهَا وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ
wamaa
kaana linafsin an tamuuta illaa bi-idzni allaahi kitaaban mu-ajjalan
waman yurid tsawaaba alddunyaa nu/tihi minhaa waman yurid tsawaaba
al-aakhirati nu/tihi minhaa wasanajzii alsysyaakiriina
“Sesuatu
yang bernyawa tidak akan mati, kecuali dengan izin Allah, sebagai
ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barangsiapa menghendaki pahala
dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barangsiapa
menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala
akhirat. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang
bersyukur.” (QS, Ali Imran [3]: 145)
- Tak peduli cara berhitung apa pun yang dipakai seseorang atau seaman apa pun tempat tinggalnya, ia tidak dapat menghindari kematian. Sebagaimana dinyatakan dalam salah satu sabda Nabi saw., “Jika Allah memutuskan bahwa seseorang akan mati di sebuah tempat, Allah membuatnya pergi ke tempat itu.” (HR. Tirmidzi)
- Seseorang dapat pergi dari dunia ini kapan pun. Demikian pula orang yang menghindari kematian, tak peduli betapa kerasnya ia berjuang untuk tidak kehilangan orang yang dicintainya. Bahkan, jika segala daya upaya telah dilakukan, ia tidak dapat menghindari kematian. Orang tersebut akan menghadapi kematian di mana pun ia berada, sebagaimana disebutkan dalam ayat;
أَيْنَمَا
تَكُونُواْ يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ
مُّشَيَّدَةٍ وَإِن تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُواْ هَـذِهِ مِنْ عِندِ
اللّهِ وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُواْ هَـذِهِ مِنْ عِندِكَ قُلْ
كُلًّ مِّنْ عِندِ اللّهِ فَمَا لِهَـؤُلاء الْقَوْمِ لاَ يَكَادُونَ
يَفْقَهُونَ حَدِيث
aynamaa
takuunuu yudrikkumu almawtu walaw kuntum fii buruujin musyayyadatin
wa-in tushibhum hasanatun yaquuluu haadzihi min 'indi allaahi wa-in
tushibhum sayyi-atun yaquuluu haadzihi min 'indika qul kullun min 'indi
allaahi famaali haaulaa-i alqawmi laa yakaaduuna yafqahuuna hadiitsaan
“Di
mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu
di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memeroleh
kebaikan, mereka mengatakan, ‘Ini adalah dari sisi Allah,’ dan kalau
mereka ditimpa suatu bencana mereka mengatakan, ‘Ini (datangnya) dari
sisi kamu (Muhammad).’ Katakanlah, ‘Semuanya (datang) dari sisi Allah.’
Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak
memahami pembicaraan sedikit pun?” (QS. An-Nisaa' [4]: 78)
Karena itu, solusinya bukan berusaha untuk menghindari kematian, tetapi bagaimana menyiapkan kehidupan untuk hari akhirat.
Kematian Adalah Awal, Bukan Akhir
- Manusia yang miskin iman atau mereka yang tidak punya keimanan sedikit pun tentang akhirat, memiliki pandangan yang salah tentang kematian dan kehidupan setelah itu. Inilah sebabnya, sebagaimana disebutkan di awal, mereka percaya bahwa saat mereka kehilangan seseorang (karena kematian), mereka akan kehilangan untuk selamanya. Karena itu, menurut mereka, orang itu menyatu dengan tanah untuk sebuah kesia-siaan.
- Sebaliknya, sebagian di antara mereka yang yakin akan kebenaran akhirat boleh saja menangisi kematian seseorang. Akan tetapi, Allah Maha Adil. Orang yang mati akan diberikan tabungan amalannya di dunia dan berdasarkan keputusan-Nya orang tersebut dibalas dengan kebaikan. Karena alasan itulah, bagi orang-orang yang memiliki keyakinan kepada Allah dan hari akhir dan karena itu hidup mengabdi kepada Tuhannya-kematian adalah gerbang menuju kebahagiaan abadi. Akan tetapi, dari sudut pandang orang yang bodoh, yang menafikan akhirat dan meremehkan hari pembalasan, kematian adalah gerbang kesengsaraan abadi.
Karena
kematian dianggap sebagai hal terburuk yang dapat terjadi pada siapa
pun, namun sebenarnya merupakan kebaikan bagi orang-orang beriman, maka
reaksi mereka terhadap kematian dibedakan dengan jelas dari akhlaq atau
sikap bodohnya akan hal itu. Sikap seorang mukmin terhadap kematian
digambarkan dengan jelas dalam ayat;
وَلَئِن قُتِلْتُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ أَوْ مُتُّمْ لَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّهِ وَرَحْمَةٌ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
wala-in qutiltum fii sabiili allaahi aw muttum lamaghfiratun mina allaahi warahmatun
khayrun mimmaa yajma'uuna
khayrun mimmaa yajma'uuna
“Dan
sungguh jika kamu gugur di jalan Allah atau meninggal, tentulah ampunan
Allah dan rahmat-Nya lebih baik (bagimu) dari harta rampasan yang
mereka kumpulkan.” (QS Ali Imran [3]: 157)
Seperti halnya kehidupan, kematian seorang mukmin juga membawa kebaikan.
- Dalam pandangan Allah, tingkatan istimewa menanti seorang mukmin yang syahid saat berjuang karena-Nya, karena kesyahidan adalah sebuah kemuliaan dan berkah yang memperbanyak balasan yang akan didapatnya di akhirat.
- Kematian seorang mukmin yang menjadikan satu-satunya tujuan hidupnya adalah menggapai ridha Allah dan mendapatkan surga-Nya, adalah sebuah peristiwa yang agung. Dengan memahami kabar gembira yang dicantumkan di dalam Al-Qur'an ini, seorang mukmin tidak pernah menangisi kematian mukmin lainnya yang mati karena Allah. Sebaliknya, ia melihat kebaikan dan berkah dalam kematian itu, dan mereka bergembira. Sesungguhnya, balasan terbesar adalah mendapatkan keridhaan Allah dan surga-Nya.
- Seorang mukmin yang menghabiskan waktunya untuk melayani Allah akan dibalas dengan kebaikan. Contohnya Nabi Nuh a.s. yang diberi umur panjang oleh Allah. Karena manusia mulia ini berjuang di setiap detik kehidupannya, ia mendapatkan keridhaan Allah, kasih, dan surga-Nya. Usahanya dalam menambah balasan pahala di akhirat.
- Sebaliknya, kaum yang kufur cenderung terjerumus ke dalam khayalan semu. Mereka mengira umur panjang adalah anugerah. Ayat di bawah ini menjelaskan kekeliruan tersebut.
وَلاَ
يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ
لِّأَنفُسِهِمْ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُواْ إِثْماً وَلَهْمُ
عَذَابٌ مُّهِينٌ
walaa
yahsabanna alladziina kafaruu annamaa numlii lahum khayrun li-anfusihim
innamaa numlii lahum liyazdaaduu itsman walahum 'adzaabun muhiinun
“Dan
janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa pemberian
tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya,
Kami memberi tangguh kepada mereka supaya bertambah-tambah dosa mereka;
dan bagi mereka azab yang menghinakan.” (QS. Ali-Imran: 178)
Mereka yang menjadi bagian masyarakat bodoh yang menjadikan kesenangan sementara di dunia ini satu-satunya tujuan hidupnya, menganggap umur yang panjang sebagai kesempatan untuk menikmati kesenangan dunia. Karena itu, mereka melupakan Allah dan hari pembalasan. Mereka tidak dapat menangkap nilai waktu yang mereka habiskan sia-sia. Bagaimanapun juga, seperti yang disebutkan dalam ayat di atas, waktu yang diberikan kepada mereka sebenarnya menghancurkan diri mereka sendiri.
Seseorang
yang memikirkan hal ini akan memahami sepenuhnya bagaimana kita bisa
menentukan mana yang baik dan mana yang buruk, sesuai dengan pernyataan
Allah,
“Bisa
jadi seseorang membenci sesuatu, padahal itu baik untuknya, dan mungkin
seseorang mencintai sesuatu, padahal itu buruk untuknya.”


Komentar
Posting Komentar